Poztmo™ Media

Kumpulan Cerpen Cinta Berkualitas

Advertisements
Cerpen merupakan karya sastra yang sangat menarik untuk dibaca. Sebagai jenis prosa naratif fiktif, karakteristik cerita pendek adalah cenderung padat dan langsung pada tujuannya yang ingin disampaikan. Hal inilah yang membuat cerpen lebih familier bagi pembaca yang memiliki waktu yang terbatas dan kesibukan yang membuatnya tak bisa meluangkan waktu untuk menghayati karya-karya sastra lainnya.

Banyak ragam dari dari jenis sastra ini, yaitu salah satunya adalah cerpen cinta yang akan anda bisa baca dibawah ini. Cerita pendek ini disadur dari berbagai sumber seperti Kompas Cetak maupun online yang memberikan ruang baca bagi anda untuk bisa menikmati sajian-sajian cerita pendek yang memiliki nilai sastra yang tinggi.

Seperti puisi cinta, cerpen bertema asmara juga tentunya membahas dan mengeksploitasi sisi yang sama, yaitu tentang perasaan manusia, namun keunggulan cerpen adalah mampu mengekploitasinya dengan lebih lebar.

Berikut adalah daftar kumpulan cerpen cinta yang bisa anda baca dengan mengklik salah-satunya. Semoga bermanfaat.

cerpen cinta


Pilih salah satu untuk membaca :

Cerpen Janur Hati

Ombak di pantai Gado-gado, Seminyak, itu sungguh menggetarkan. Di tengah gerimis dan badai kecil, gelombang dan deburnya mengempaskan para peselancar dan mereka yang berenang di sepanjang pantai. Padahal sejumlah bendera sudah dipancangkan agar para pelancong tidak melampaui batas berbahaya itu.

Toh, para penikmat pantai seperti tak peduli. Mereka tetap asyik bergumul dan bercanda dengan gelombang dan buihnya.

Di antara mereka yang bersukacita dengan kesibukan pantai, itu tampak sepasang suami istri yang berlarian dan bercanda dengan seorang gadis kecil yang baru dijalin rambutnya model gimbal dengan butiran kepang warna-warni. Gadis berbikini mungil itu tertawa dan berlarian, kendati sesekali ia terjatuh juga di atas pasir yang bergelombang dan basah.

"Sayang...! Kita sudahan ya...! Makan dulu, yuk...!" kata perempuan berambut panjang yang sedari tadi mengejar-ngejar anak itu.

"Yuk...! Papa juga sudah lapar, nih...!" kata lelaki yang juga asyik saling berkejaran dengan anak dan ibu itu.

"Yah...! Kan Janur belum capek, Ma....!" kata gadis mungil itu.

"Nanti kita masuk angin sayangku...! Anginnya sudah semakin keras. Apalagi ini gerimis tidak mau berhenti...! Yuk...!" kata perempuan itu sambil merengkuh gadis bernama Janur itu dan langsung menggendongnya menuju tempat bilas di tepi pantai.

"Mas... yang di warung papan yang di tengah itu, sepertinya...!" kata ibu muda yang menggendong gadis bernama Janur itu, usai mendandaninya dengan rok panjang berbunga.

Lelaki itu menghentikan langkahnya di atas pasir yang tak terjilat ombak. Ia memusatkan perhatiannya ke ruang dalam warung yang ditunjuk perempuan itu.

Di salah satu meja ia mendapati seorang pria tengah mengetik dengan laptopnya sambil sesekali menengadahkan pandangannya ke deburan ombak yang bergerak lurus di hadapannya.

"Iya, seperti Baron...!" kata lelaki itu dengan nada suara agak tersendat.

Perempuan itu memeluk pinggang lelaki itu.

"Kita temui dia atau kita hindari...?" bisik perempuan yang kini rambutnya tersibak-sibak angin laut.

"Terserah kamu, Di...!" jawab lelaki itu sambil memandang mata perempuan itu.

"Kalau Mas Gin tidak keberatan...! Kan kita belum pernah bertemu dan berkomunikasi sama sekali sejak itu...!" bisik perempuan itu, dengan nada bergetar, sambil membersihkan kakinya dari butir-butir pasir yang kini melengketi lagi kedua kaki telanjangnya.

"Tapi, kamu kan masih ingat janji kita bersama dulu...?"

"Iya dong Mas. Aku tak akan pernah melupakannya...!" bisik perempuan itu sambil mengecup pipi lelaki itu.

"Ada apa sih, Ma...? Kok bisik-bisik dari tadi...?" kata gadis itu menyela.

"Enggak... itu sepertinya ada teman papa mama dulu...!" kata perempuan itu sambil memeluk Janur dengan penuh cinta lebih dari biasanya.

"Aduh... Ma...! Janur sesak nih...! Yang mana, Ma...?" kata Janur sambil melihat-lihat ke segala arah.

"Itu yang duduk di warung Chicharitos, yang pakai topi hitam itu...!" bisik perempuan itu sambil menunjuk dengan arah pandangan dan wajahnya.

Gadis itu memerhatikan sosok yang dimaksud, tapi wajahnya tak begitu jelas, karena agak gelap terhalang bayangan atap rumbia yang memayungi warung sederhana di bibir pantai itu.

"Terus…? Kok Mama Papa gak mau ketemu...?"

"Bagaimana, Mas...?"

"Ya, sudah, kita ke sana...! Mungkin juga hanya mirip dia...!" kata lelaki itu sambil bergerak setengah hati menuju ke arah warung itu.

Perempuan itu mengikuti langkah lelaki itu, hingga ke bawah tangga warung yang menuju ke pasir pantai.

Sesaat, pasangan dan anak gadis itu berdiri menghadap warung. Pandangan mereka menengadah ke arah lelaki bertopi hitam yang tengah menunduk sambil mengetik sesuatu di komputernya.

"Mas Bar...!" kata perempuan itu dengan suara sedikit dikeraskan, untuk sesaat mengalahkan gemuruh ombak.

"Om Bar...!" teriak Janur mengikuti suara ibunya, memanggil orang yang berada di ketinggian warung itu.

Mendengar namanya dipanggil orang, lelaki bertopi itu segera menengadahkan pandangannya dari layar laptop. Ia menatap ke arah ketiga anak beranak itu. Dengan rasa terkejut ia langsung berdiri dari duduknya, hingga gelas jus mangga yang baru diminumnya setengah, itu tumpah ke lantai papan.

"Dian...?! Girindra...?!" kata lelaki bertopi itu sambil bergegas melompati tangga turun, dan membiarkan gelas minumnya berguling dan jatuh ke lantai papan.

Dengan rasa takjub bercampur haru, ia langsung menyalami dan memeluk lelaki yang dipanggil Girindra itu. Sesaat kemudian ia menatap perempuan yang dipanggilnya Dian, itu dan kemudian memeluk dan mencium kedua pipinya.

"Aduh...! Janur kejepit nih...!" teriak gadis kecil di pelukan ibunya itu dan yang saat itu tak disadari keberadaannya oleh lelaki bertopi itu.

"Aduh...! Maaf, sayang...! Om Bar enggak lihat...! Kasihan…!" kata lelaki yang dipanggil Baron, itu sambil melepaskan pelukannya, dan kemudian mengambil jarak untuk dapat memandang dan memerhatikan gadis itu.

"Ini…?" kata Baron sambil menunjuk Janur.

Namun, ia segera menghentikan kalimat yang sedianya hendak ia ucapkan saat itu.

"Iya…!" kata Dian dan Girindra berbareng setengah berbisik.

Baron, Dian, dan Girindra pun saling berpandangan beberapa saat, dalam diam, dengan perasaan dan pikiran masing-masing.

"Lima tahun, Mas Bar…!" kata Dian akhirnya, setelah agak lama mereka tak bisa berkata-kata dan tenggelam ke dalam kecamuk kalbu masing-masing.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, ketiga pasang mata orang dewasa itu tampak membasah dan berkaca-kaca.

"Iya… Om…! Hari ini 6 Januari, Janur Hati ulang tahun…!" kata gadis mungil itu.

"Janur Hati…?" kata Baron setengah berbisik.

"Iya, kami memberinya nama Janur Hati...!" bisik Dian seolah ingin menegaskan.

Sekali lagi, senyap merayap di antara deburan ombak pantai Seminyak.

"Demi Tuhan, Mas Baron, tolonglah kami. Hanya kepada Mas Baron kami bisa meminta pertolongan semacam ini…!" kata Dian dan Girindra berbareng, sementara kedua pasang kelopak mata mereka dilinangi air mata yang tak terbendung lagi.

Baron tak mampu berkata sepatah pun. Yang ia lihat dan rasakan hanyalah, betapa Dian dengan sepenuh hati meremas punggung tangan kanannya, sementara Girindra juga meremas tangan kirinya dengan seluruh emosi bergejolak di dadanya.

Setelah senyap beberapa saat, yang terasa bagaikan beberapa abad, dan sesudah mempertimbangkan banyak sekali hal, akhirnya Baron pun membalas emosi yang tersalurkan melalui genggaman tangan itu, dengan mencekal agak kuat kedua tangan Dian dan Girindra.

Baron menganggukkan kepalanya sekali. Kemudian ia menganggukkan lagi kepalanya beberapa kali, ketika pandangan mata sepasang suami istri tampak terpana, terkesima, dan takjub akan penerimaan dan kesediaan Baron.

Tanpa banyak membuang waktu, lelaki yang tampak lebih tua dari mereka, dan sejak tadi duduk di kursi di sebelah kanan Baron, langsung menggenggam kedua tangan Dian dan Baron yang masih saling berpegang erat itu.

Dengan suaranya yang berwibawa, lelaki itu mengucapkan serangkaian doa dan ketentuan. Beberapa saat kemudian, lelaki itu meminta agar Dian dan Baron mengulang setiap kata dan kalimat yang ia ucapkan. Sementara Girindra mendengarkan dan menyaksikan semua itu dengan wajah tegang, diliputi pelbagai kecamuk yang bergulung-gulung di dalam kalbu, dan di sekujur jasmani dan rohaninya.

"Semoga semua ini diizinkan oleh Yang Maha Kuasa. Dan, karena ini adalah langkah terakhir yang dapat kalian upayakan, serta sudah kalian sepakati dengan ikhlas, dengan sepenuh kesadaran, dan tanpa paksaan dari siapa pun, maka apa yang kalian cita-citakan ini kiranya dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa…!" kata lelaki itu.

Beberapa saat kemudian, sesudah semua yang hadir di kamar itu paham akan apa yang barusan terjadi, dan apa yang akan segera terjadi, lelaki itu pun bangkit dari kursinya, diiringi Dian, Baron, dan Girindra.

Lelaki itu sekali lagi mengucapkan selamat kepada mereka semua, memeluk mereka dengan penuh hormat, dan kemudian mohon diri. Dan, setelah lelaki itu berlalu, kini giliran Girindra memeluk Baron, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Lalu ia memeluk serta mencium kedua pipi dan bibir istrinya sekejap.

"Aku sangat mencintaimu, sayangku. Ingat, sesudah pukul 24.00 ini, engkau harus melupakan segalanya, dan engkau akan kembali kepadaku untuk selamanya…!" bisik Girindra tanpa mampu menahan tangisnya yang berderai dalam sendu dan sedu.

"Iya Mas, aku akan kembali kepadamu, untuk selamanya. Semoga pengorbanan ini mendapat ampunan dan ganjaran dari Tuhan Yang Maha Kuasa…!" bisik Dian dengan suara bergetar dan tampak berupaya menunjukkan ketegarannya.

Girindra kemudian keluar dari kamar itu. Ia menutup pintu itu perlahan. Lalu ia menarik napas sedalam-dalamnya, dan berupaya menyiram seluruh api yang menyala-nyala di dadanya. Beberapa saat ia hanya berdiri mengamati daun pintu kamar yang bernama Janur Hati itu. Setiap kamar di hotel itu, selain memiliki nomor juga mempunyai nama masing-masing. Dan, di kamar Janur Hati itulah, Girindra kini menyerahkan seluruh nasibnya, masa depan rumah tangganya, dan keturunannya, hingga tepat dini hari pukul 24.00 atau pukul 00.00.

Tanpa menunggu waktu menunjukkan tepat pukul 24.00, tanpa menanti gemuruh ombak benar-benar berhenti berdebur, dan tanpa membiarkan air mata mereka mengering oleh angin, Baron ternyata sudah meninggalkan kamar itu, meninggalkan hotel itu, meninggalkan kota itu, dan meninggalkan pulau itu. Tanpa diketahui siapa pun. Tanpa berkabar kepada siapa pun. Dan, tanpa mencari berita dari mana pun dan dari siapa pun.

Baron tidak pernah dan tidak akan pernah menyesali apa yang telah terjadi lima tahun silam itu. Ia hanya ingin menolong pasangan yang sudah belasan tahun menikah tapi tak kunjung dikaruniai anak itu. Segala cara sudah mereka lakukan, termasuk melalui proses in-vitro. Tapi tetap tidak berhasil. Sementara untuk mengangkat anak, mereka belum siap. Masalah ternyata ada pada Girindra, yang karena kelainan genetis, tidak memungkinkan punya keturunan.

Semula Baron tidak tahu mengapa tiba-tiba pasangan itu mengundangnya makan malam di sebuah hotel pada hari itu. Ternyata, Dian dan Girindra sudah memutuskan untuk hanya memohon "keturunan" dari Baron. Menurut keterangan mereka, pilihan nama Baron langsung datang dari Dian, setelah sejumlah nama lelaki "yang baik dan benar" dan "yang disepakati" kedua pihak mereka kumpulkan. Namun ketika tiba pada pilihan "cara" dan "proses" pembuahan, Dian yang merasa sudah letih melakukan pelbagai upaya secara medis dan teknis laboratorium, menghendaki agar semua proses itu berlangsung secara alamiah.

Ketika timbul masalah ihwal etika dan ketentuan agama, setelah berkonsultasi pada sejumlah ahli, akhirnya disepakati agar sebelumnya dilakukan upacara "pernikahan darurat" sesuai syariat, dengan batas waktu dan ketentuan yang sangat ketat. Tidak lebih dari enam jam, pasangan itu sudah harus berpisah secara resmi, dan sejak itu mereka tidak boleh saling berkomunikasi, sebelum masa tiga bulan berlalu.

Baron ternyata memutuskan dan melakukan hal yang jauh melampaui kesepakatan. Ia sungguh-sungguh tidak ingin membawa kenangan yang indah dan luar biasa itu lebih lama lagi. Ia harus segera melupakannya. Apalagi ia tahu, sejak lama ia memang sudah jatuh cinta kepada calon istri sahabatnya itu. Dian juga tahu dan merasakan hal yang sama, sejak pertemuan dan perkenalan pertama mereka, beberapa pekan sebelum ia menerima pinangan dari Girindra. Namun, perasaan itu berhasil mereka pendam selama belasan tahun. Selain karena cinta mereka tidak memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang, baik dalam ruang maupun waktu, profesi mereka pun tidak pernah memungkinkan bagi mereka untuk bisa saling bertemu. Kecuali melalui jejaring sosial yang sangat terbatas, dan tidak terjamin kerahasiaannya.

Gelombang cukup tinggi tiba-tiba bergulung menuju pantai, dan meluncur deras menuju ke tepian. Karena tenaganya demikian besar, lidah ombak itu menyapu daratan hingga menyambar tiang-tiang warung. Dan ketiga pasang kaki Dian, Girindra, dan Baron di depan warung itu pun tersapu ombak, hingga pakaian mereka membasah kuyup. Mereka pun tidak sempat bergerak dan menghindar. Mereka hanya bisa saling berpeluk dan berpadu, mempertahankan diri mereka, agar tidak terseret ombak yang cepat berbalik ke arah laut.

"Aduh…! Papa…! Janur enggak bisa napas, nih…!" kata gadis mungil itu, di tengah pelukan kedua orangtuanya.

Dian, Girindra, dan Baron pun saling berpandangan.

Bintaro, Januari, 2013
Cerpen Karya Noorca M Massardi.

Semoga cerpen cinta ini memberi anda inspirasi dan makna yang dalam. :)
Kembali ke awal

Cerpen Angin Kita

Kau bercerita tentang Angin pertama kali saat aku berusia 18 tahun. Kau 19 tahun. Cerita itu kau tuturkan setelah kita lulus SMA. Sebelum kita berpisah.

Aku ingin menjadi Angin,” katamu sambil menyeruput es kelapa di belakang sekolah.

”Kenapa?”

”Kakekku pernah bercerita tentang Angin yang sering datang ke kampungnya setiap sepuluh tahun sekali. Dan setiap sepuluh tahun sekali itulah penduduk desa bersiap menyambut kedatangannya.”

”Kenapa harus disambut?”

Kamu mengedipkan sebelah matamu, ciri khasmu jika kamu mulai iseng dan bersemangat memberitahu sesuatu yang menurutmu menarik.

”Di kampungnya tidak pernah ada Angin. Semuanya diam. Tak bergerak. Hanya manusia yang bergerak. Bayangkan kehidupan yang semuanya membeku. Meski Angin tak datang, kampung kakekku tetap sejuk. Tapi itu pun tidak mempengaruhi kerinduan warga kampung itu untuk melihat Angin. Karena saat Angin itu datang, semuanya menjadi bergerak. Daun-daun di pepohonan berkesiur, rumput-rumput bergerak kiri kanan depan belakang, dan yang lebih menyenangkan, anak-anak bisa bermain layangan.”

Aku setengah percaya mendengar ceritanya. Namun aku tak bisa menghalangi imajinasiku membayangkan kampung kakeknya. Sebuah kampung yang terletak jauh di pedalaman Sulawesi sana, tempat leluhurnya berada. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu, sebagian berbentuk rumah panggung, dengan pohon-pohon kelapa di setiap halaman rumah. Sawah yang masih menguarkan bau lumpur yang lembab. Sesekali ular pohon akan merambat turun mencari tikus. Kehidupan yang selama ini hanya kudengarkan di buku-buku pelajaran sekolah atau lukisan-lukisan realis.

Kemudian kau meneruskan ceritamu, tentang persiapan para penduduk kampung itu. Mereka membersihkan kampung, menyiapkan pakaian terbaik mereka, mengambil beras terbaik dari lumbung desa untuk ditanak di dapur bersama yang terletak di balai desa. Ibu-ibu dan perawan kampung berkumpul di dapur itu, mencuci beras, menanaknya, sambil bertukar cerita tentang keluarga, tentang sawah, gunung yang tak lagi menyemburkan lahar, tentang panen, tentang hantu, roh leluhur, tentang babi hutan yang menyelonong masuk kebun, dan gadis-gadis yang mulai mengenal cinta.

Persiapan telah lengkap. Kini tinggal menunggu Angin. Yang ditunggu pun datang saat pagi belum merekah. Saat gelap belum terpercik warna kuning matahari. Perlahan Angin menyapa rumah pertama. Pelan. Berembus dengan aliran yang tetap. Tak kencang, tak pelan. Satu per satu penduduk keluar dari rumah dan menemui Angin yang telah menunggu di lapangan. Anak-anak menghambur terhuyung-huyung keluar dari rumah dengan mata masih berair dan bertahi di sudutnya. Salah satu dari mereka itu kamu, di usia lima tahun. Perkenalan pertamamu dengan Angin itulah yang kemudian mengantarkanmu pada keinginan untuk menjadi Angin. Kelak. Ketika dewasa.

Di mata bocahmu ketika itu, Angin begitu keren. Begitu memukau. Sosoknya yang tinggi dan gagah dengan pakaian warna putih yang terang, dan seluruh penduduk desa bergantian mencium tangannya. Senyum Angin menyejukkan siapa pun yang memandangnya. Apalagi ketika menyentuhnya, bahkan saat menyentuh pakaiannya sekalipun.

Kharisma Angin menyedot seluruh inderamu. Kau begitu merekam kenangan pertemuan itu hingga bertahun-tahun kemudian. Apalagi ketika Angin mulai memilih perawan tercantik di kampungmu untuk menjadi ibu bagi penerusnya kelak. Ketika usiamu makin bertambah, kau makin bertambah kekagumanmu pada sosoknya, terutama dari cerita-cerita yang kau dengar tentangnya dari orang-orang tua di desamu. Keinginanmu menjadi Angin makin bertambah ketika kau mendengar perempuan yang dipilih Angin tidak bisa melahirkan keturunan bagi Angin. Saat itulah kau mendengar bahwa Angin akan mencari penerusnya kelak dari pemuda di desamu kelak ketika mereka berusia 20 tahun.

Aku tak lagi mendengar tentangmu begitu kita berpisah. Kudengar kamu kembali ke desamu dan menunggu usiamu menjadi 20 tahun. Namun ada pula teman yang bercerita kau menghabiskan sisa waktu setahun untuk berkelana dan kemudian kembali ke kampungmu tepat ketika kau berulang tahun ke-20. Aku tak tahu mana yang benar. Aku sendiri sudah disibukkan dengan dunia kuliah dan kampus yang lebih menjanjikan nasib baik bagiku daripada mempertahankan cerita absurd yang begitu kau pertahankan.

Ya, aku melupakanmu juga cerita yang menurutmu hanya kauceritakan kepadaku di belakang sekolah waktu itu. Aku menganggapnya tak serius karena aku tahu kau menceritakannya dalam pengaruh ganja yang kau campur dengan tembakau yang kau linting sendiri. Kau sempat menawariku seisap dua isap, tapi aku menolaknya. Ganja hanya membuatku doyan makan, bukan pikiran melayang seperti yang kau yakini. Namun yang kuyakini ketika itu bahwa ceritamu tak lebih dari khayalan semata.

Barulah 15 tahun kemudian, yaitu saat ini, cerita itu kembali terngiang di otakku, ketika aku mendengar pemberitaan di sejumlah media massa tentang kehancuran yang dialami sejumlah kampung di Sulawesi. Salah satunya desa tempat kau lahir. Kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak rumah luluh lantak dan yang lebih menyedihkan, ada sekitar puluhan anak lelaki hilang. Konon kabarnya situasi sangat mencekam di sana. Jam malam diberlakukan, dan diadakan ronda keliling untuk menjaga keluarga-keluarga yang memiliki anak lelaki. Pemberitaan ini memang tak ada kaitannya dengan ceritamu tentang Angin, tapi entah mengapa aku teringat kamu begitu membaca kampungmu ikut terkena musibah ini.

Kenanganku tentang ceritamu barulah terangkai menjadi kisah lainnya ketika aku bertemu denganmu. Suatu malam kamu datang ke rumahku tanpa kutahu dari mana kau mengetahui kediamanku. Kamu datang dalam keadaan lusuh, letih, namun masih menyisakan kekonyolan kanak-kanakmu yang dulu selalu menggelisahkan guru-guru. Sosokmu yang lebih legam dan kini berambut cepak, pipi dan dagu yang dipenuhi bulu, membuatmu sangat terlihat seperti musafir yang lama tak mengenal kasur dan air. Matamu yang masih setajam dulu terlihat lelah. Malam itu kupandangi dirimu yang tertidur lelap di sofa kamar tamuku.

Perlu kesabaran dan usaha keras untuk memintamu bercerita keesokan harinya. Beberapa kali kulihat kau menghela napas, dan matamu seolah mempertimbangkan sesuatu. Kau begitu bimbang, dan berulang kali memandang langsung ke mataku seolah mencari sebentuk kepercayaan.

”Kau ingat tentang Angin?” akhirnya kau membuka suara setelah aku bertahan membisu selama dua jam menunggumu bicara.

Aku mengangguk. Dan setelah sekitar sepuluh menit terus menatapku mencari keyakinan.

Kemudian mengalirlah kisah tentang perjalananmu selama 15 tahun. Kau berkelana mencari Angin. Mencari cara untuk menjadi Angin. Bukan perkara gampang karena banyak ujian yang harus kau lewati untuk bisa membuktikan kemampuanmu. Bahkan kau sempat lelah dan selama lima tahunan terjebak dalam ujian yang sengaja dipasang Angin.

”Aku mencoba semua benda-benda itu yang hanya kau dan Tuhan yang tahu kenikmatannya, Lan. Dan ketika kau memutuskan berhenti, hanya kau dan Tuhan saja yang tahu kesakitannya. Aku kemudian kembali ke Sulawesi, ke kampung kakekku. Selama beberapa tahun di sana, aku menyembuhkan diri dan mulai mendapatkan ketenangan. Dan saat itulah aku mendengar tentang keberadaan Angin.”

Tanpa merinci dengan detail, kau menceritakan bahwa justru masa-masa ketika kau mencandu itulah Angin mendengar tentangmu. Dan itu sudah cukup menjadi bekal bagi Angin untuk memilihmu. Diantar oleh kaki tangannya yang berhasil menemukanmu, kamu bertemu dengan Angin.

”Sejak itu aku menjadi bagian dari Angin. Aku pergi ke tempat-tempat yang ia minta. Aku melakukan apa pun yang ia ingin untuk kulakukan.”

”Apakah semua yang ia minta sesuai dengan keinginanmu? Dengan bayanganmu selama ini tentang Angin?”

Kau terdiam cukup lama.

”Jujur, setelah bertahun-tahun kemudian aku lelah. Namun itu sudah pilihan yang kuinginkan sejak kecil. Aku belajar tentang pengabdian, loyalitas sebuah tugas. Apa pun konsekuensinya. Apa pun jenis pekerjaan itu. Dengan Angin, aku bisa menjadi apa saja. Aku suatu hari menjadi gembel, suatu hari kemudian menjadi satpam, bisa saja suatu hari aku ada di tengah pesantren. Awalnya aku menikmati semuanya, tapi lama-lama aku tak lagi tahu untuk apa Angin menyuruhku seperti itu.” Matamu menerawang jauh penuh kelelahan.

Aku tak lagi bertanya lebih lanjut. Sisa hari itu kita lebih banyak bercerita tentang masa lalu. Tentang teman-teman kita, tentang pekerjaanku, tentang rencanaku, dan tentang keluarga kita masing-masing. Kau mungkin akan kembali ke Sulawesi, ke kampung kakekmu. Tapi kau tak terlalu yakin.

”Mungkin setelah aku bicara dengan Angin, aku akan kembali ke sana,” ujarmu lirih.

Sore hari, kau mengajakku ke pantai. Kita memandangi matahari yang tenggelam dengan cepat, menyisakan warna abu-abu di air laut. Saat itulah kau memintaku untuk selalu menantimu setiap matahari tenggelam.

”Aku akan menjadi angin untukmu, Ilan. Angin yang mengalir pelan dan menenangkanmu. Yang tak kau sadari kehadirannya tapi bisa kau rasakan. Aku akan menjagamu.”

Itulah saat terakhir aku bertemu denganmu, Enzo. Tak lagi kudengar keberadaanmu. Apakah kau telah menjadi Angin? Apakah kau kembali ke kampung halamanmu? Apakah kamu berkelana menyusuri setiap pulau di negeri ini?

Setahun setelah kepergianmu aku telah berhenti mempertanyakan kehadiranmu. Aku cukup mengikuti pemberitaan di surat kabar atau televisi untuk mengikuti jejak-jejak keberadaanmu. Di tempat-tempat itulah aku yakin kau tengah menjadi Angin yang kadang menderu, mengalir, berputar, atau menghantam memporakporandakan.

Aku tak hendak mempertanyakan pilihan hidupmu. Hanya keyakinan bahwa kau tahu mana yang terbaik buatmu. Karena selalu ada kebaikan dalam dirimu yang selalu meyakini adanya kebaikan di setiap orang. Entah tengah menjadi Angin seperti apa dirimu, aku yakin Enzo, kau akan baik-baik saja, karena aku menunggumu di sini.

Setiap senja, menjelang matahari terbenam, aku duduk di pantai ini. Pantai yang sama. Pasir yang sama. Air berwarna abu-abu ketika terang mulai menyurut yang masih sama. Busa ombak yang sama. Hanya kini ada yang tak sama lagi. Aku sudah memiliki Angin yang kadang menderu, kadang pelan, kadang letih, kadang berhenti, kadang menangis, Angin yang tak lagi membuatku terlalu kehilangan dirimu, atau merindumu terlalu sangat. Angin yang berlarian menjejaki pasir, tertawa keras mempertontonkan gigi-gigi kecilnya, dengan sepasang mata menatap tajam ke arahku, sama sepertimu.

Angin kita, Enzo, kini menemaniku setiap senja dan kami sama-sama menantimu pulang.

Jakarta, 2012
Cerpen Karya Dewi Ria Utari.

Semoga cerpen cerpen cinta memberi anda inspirasi dan makna yang dalam. :)
Kembali ke awal

Hari Terakhir Duka

"Carilah seseorang untuk kau rindukan, aku tak mungkin terus ada di sisimu. Rindumu hanya akan membebani langkahku untuk terus berjalan, menyusur hari-hariku." katamu. Aku tertunduk. Bukan pertama kali kau meminta aku melakukan ini. Dan ini bukan hanya tentang aku yang terus merindukanmu, tapi juga masa depan yang telah kau bingkai seindah pelangi di sana. Di tempat segala duka kau kubur dan tak seorang pun mengetahuinya. Kecuali aku.

"Tidak, biarkan aku terus memujamu dengan caraku, dalam kesepianku. Sekian lama aku telah menikmati semua pahit ini, dan aku akan terus menikmatinya, sampai kutemukan cara lain untuk mencintaimu. Jika rinduku menjadi beban bagimu, anggap saja kita tak pernah bersama. Bukankah sekian lama, bagimu aku adalah kesepian."

"Tapi kau akan terus tersiksa dengan perasaanmu, dan aku tak mungkin menutup mata dengan semua hal tentang dirimu, terlebih cinta yang kau diamkan dalam kesepianmu. Buka hatimu, ada orang lain yang bisa mencintaimu lebih baik dari aku. Kita tak mungkin bersama lagi. Kau harus mengerti keadaanku."

Evania, gadis ini kembali memohon padaku setelah dua tahun yang hilang kembali mempertemukan kami. Dua tahun yang hilang, dan hingga saat ini belum ada yang mampu meluruhkan seluruh perasaan kami. Rindu memuncak di tiap hari yang terlewat. Cinta masih berdetak sama layaknya dulu. Tapi pertemuan kali ini hanya untuk mempertegas masa silam kami akan kebersamaan yang tak mungkin lagi. Kebersamaan yang harus rela dipisahkan oleh pikiran kolot zaman Siti Nurbaya.

Aku menatapnya sambil memegang tangan yang semakin kurus itu. Mata itu, yang pernah melepaskan segala kesedihanku, kini tak mampu menyembunyikan duka meski bibirnya berusaha menutup itu dengan senyumnya yang meluruhkan kesepianku selama ini.

"Dua tahun lebih aku bersembunyi. Dua tahun pula aku menyimpan semua kepinganku sambil berusaha menyusunnya kembali seperti sediakala agar kelak aku mampu bangkit dan tak seorang pun yang tahu bahwa aku pernah hancur. Kau tahu, itu tak pernah mudah bagiku. Ini jalan terberat yang pernah kutempuh dan tak seorang pun yang datang untuk menopang aku. Kini kepingan itu nyaris sempurna kususun. Aku siap untuk bangkit, tapi aku ingin kau ada jika saat itu tiba agar bisa kau saksikan bagaimana seorang yang pernah hancur karena mencintaimu bisa bangkit dari kehancurannya tapi tetap mengagungkanmu dalam cintanya. Aku tak mungkin bangkit tanpamu. Kepingan ini harus ditopang ketika akan berdiri agar tak jatuh dan hancur lagi untuk kesekian kali. Dan kamu, hanya kamu yang bisa menopangnya.

"Tidak! Bukan aku. Kamu bisa bangkit bahkan berlari tanpa aku. Kehadiranku hanya akan membuatmu melangkah dalam bayang-bayangku yang tak mungkin lagi meneduhimu. Kamu harus bisa sendiri. Yang kamu butuhkan kini hanya satu keyakinan, bahwa akan ada orang lain yang mampu membuatmu jauh lebih baik. Bukan aku. Buka matamu. Dunia ini sangat luas dan aku bukan satu-satunya perempuan yang tinggal di dalamnya."

Matanya beralih ke pintu yang setengah tertutup dengan pandangan kosong, menerawangi gersangnya rumpun pisang yang nyaris kering terbakar terik. Aku berharap ia dapat merenungi hidupku dari rumpun pisang itu. Hidup yang nyaris kering. Untuk terus hidup, harus ada yang menyiramnya dengan cinta dan perhatian yang tulus.
***
Memang benar apa yang dikatakan Evania. Evaniaku yang kini telah merintis deritanya dalam kesepian di negeri batas. Kesepian yang sengaja ia ciptakan untuk untuk menghalau lebih banyak duka berkecamuk dalam dadanya yang telah penuh dengan goresan luka masa lalu. Aku mengaguminya. Ketegaran Evania untuk terus bertahan menghadapi kehidupan yang bukan mimpinya. Dan bukan mimpi semua perempuan, tentu saja. Mimpi-mimpi yang ia ciptakan semenjak gadis harus ia buyarkan kala ia harus menikah dengan seorang lelaki yang tidak lebih dari pecundang. Lelaki yang tak pernah peduli apa yang dimakan seorang Evania dan anaknya. Lelaki yang menggunakan bajunya sirahnya agar selalu terlihat bijaksana dan berwibawa.

Di negeri barunya, Evania harus menciptakan juga mimpi-mimpi baru untuk hidupnya dan membangun semua itu dalam waktu satu malam. Bagaimana tidak, ia seperti memasuki belantara yang sangat kelam dan asing. Ia harus bergulat antara rasa takut oleh kekelaman itu atau mencari jalan agar mampu beradaptasi. Bertahan dengan rasa takut hanya akan membuat ia dikuasai oleh ketakutan itu sendiri dan kekelaman akan semakin menjerumuskan ia ke dalam ngarai yang kian dalam. Evania sungguh perempuan tangguh. Ia berhasil melawan arus, membalik ketakutan dan menerangi kekelaman jalannya, dan pada akhirnya dialah yang memegang pelita dikendalinya dalam hitungan waktu yang singkat.

Namun, sehebat-hebatnya seseorang dikehidupannya, toh ia memiliki rasa rindu untuk menggenggam kembali mimpi-mimpinya di masa silam. Inilah yang tak mampu ia kendalikan. Prahara rumah tangganya dari hari ke hari kian menjadi ruwet. Rasa cinta kian hari hanya sebuah kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan formal. Nyaris tak lagi bergetar.

Aku memahami semua yang terjadi pada Evaniaku akhir-akhir ini. Ia bangun mimpi tapi harus kandas oleh ego seorang bajingan. Dan bajingan itu juga yang memporak-porandakan ruang hati yang kusiapkan khusus untuk Evania tapi tiba-tiba hancur oleh undangan pernikahan yang sampai ke rumahku. Berhari-hari aku kehilangan selera makan, hanya tidur dan meratapi nasib hingga akhirnya aku merasa sadar, bahwa mungkin inilah jalan Tuhan untuk memberi kebahagiaan bagi Evaniaku. Mungkin pernikahannya akan mampu memunahkan luka dan duka yang sebelumnya sering digoreskan dengan sempurna oleh sekian jumlah lelaki dalam hatinya. Aku mencoba iklas meski tak iklas oleh kenyataan ini. Dengan segala kekuatan, aku menggenggam tangannya, memberikan kecupan terakhir tatkala ia dipinang secara adat, lalu pergi dari kehidupannya selama berwaktu-waktu.

Aku pergi darinya untuk membuang segala perasaan tentang dia dengan susah payah. Berbulan-bulan kugembalakan kehidupan ini dalam padang kritis dukaku. Menjaga hakikat rindu sestabil mungkin agar tak terperosok ke dalam ngarai duka yang kelam. Hingga pada satu titik dan aku merasa percuma dengan perjuanganku menghalau bayang-bayangnya. Ia kurindukan kala malam dan siang, kala panas dan hujan. Pada akhirnya, ia menjadi alasan mengapa aku harus berdoa. Ia menjadi alasan aku harus menjadi kian tegar. Ia menjadi alasan bagiku untuk kembali menemukan dunia yang hilang, mencari lagi kepingan yang telah terbuang dan menyatukannya lagi.
Kami bertemu di sudut peradaban yang telah lama kutinggalkan setelah perpisahan yang sangat lama. Perjumpaan ini meninggalkan kesedihan yang teramat sangat, menambah lagi sehasta duka dalam cerita kelamku. Evania bukan lagi seperti yang kubayangkan. Sosok magis itu kian kurus tubuhnya termakan derita kesendiriannya. Pundaknya dipenuhi tanggungjawab kehidupan yang berat, melebihi apa yang mampu ia pikul.

Saat itu aku sadar, yang ia butuhkan bukan hanya doa. Tapi juga pelukan agar ia tak merasa sendiri menjalani hidupnya. Ia butuh teman berbagi duka. Teman yang mampu mengerti segala hal dalam pergumulan hidupnya. Ia butuh aku untuk mengurangi lingkar matanya yang menghitam termakan airmata. Ia butuh pundakku untuk berbagi beban hidupnya. Ia adalah cintaku. Maka kurelakan hatiku, jiwa dan ragaku untuk memberi setiap hal yang ia butuhkan untuk menemukan kembali kebahagiaan sejati yang sekian lama menghilang dari kehidupannya.
***
Aku kembali memegang tangan itu. Tangan Evaniaku yang malang, memberinya isyarat agar melihat aku yang di sisinya. Tapi Evania tetap menujukan matanya ke arah pintu dan gersang rumpun pisang di depannya. Dan aku merasakan gemuruh di dadanya, pergumulan batinnya antara menahan airmata agar tak mengalir atau membiarkan semua kesedihannya mengalir deras di hadapanku.

"Evania, kau tahu? Jiwa kembaraku mengarahkan langkah untuk kembali kepadamu. Hatiku setiap hari berseru-seru dalam dada untuk datang padamu. Bukan karena aku tak mampu menemukan perempuan lain, bukan. Bukan itu. Aku kembali, karena aku harus kembali kepadamu. Aku tidak datang untuk menawarkan kebahagiaan yang dulu pernah kusiapkan. Tidak. Aku juga tak datang untuk mengambil sisa kebahagiaanmu. Tidak. Sama sekali tidak. Aku tak datang untuk itu. Aku terlahir bukan untuk berbagi kebahagiaan denganmu tapi untuk mengambil semua duka dari hatimu menjadi milikku. Untuk memberikan pundakku agar kau bisa bersandar. Kau tahu, Evania, untuk alasan apa pun, kau tak pantas memiliki semua kepedihan ini."

Kalimat terakhirku menyentaknya. Hentakan yang pelan tapi ternyata mampu membobol airmata yang sedari tadi ia bendung. Kubiarkan ia merebut dadaku dan jadikan tempat menangis, melepaskan semua perih yang selama ini membelenggu dan mengekang jiwanya. Kupeluk ia seerat aku memeluk dukanya. Aku tak akan melepasnya lagi untuk pergi menderita di sana. Sendiri.
"Menangislah sayang, sepuasmu. Karena ini adalah hari terakhir kau berduka."

Cerpen Karya Dody Kudji Lede.

Semoga cerpen cinta ini memberi anda inspirasi dan makna yang dalam. :)
Kembali ke awal