Poztmo™ Media

Macam Macam Majas, Pengertian dan Contohnya

Advertisements
Secara pengertian, Majas berarti penggunaan keragaman bahasa dan kata untuk memperoleh efek tertentu yang menimbulkan kesan dan nuansa imajinatif dalam penyampaian pikiran atau perasaan baik secara lisan maupun tertulis. Bisa kita lihat bahwa sebagai sebuah bagian dari Bahasa Indonesia, sudah tentu kita harus memahami atau setidaknya mengetahui sebagai sebuah kekayaan tata bahasa kita.

Bisa kita lihat majas ini diterapkan hampir di semua tulisan baik itu puisi, pantun maupun cerita pendek, Novel, bahkan di berbagai media lain seperti siaran radio dan televisi (film). Sepertinya sudah menjadi keharusan penggunaan majas seperti hiperbola, sarkasme dan kontradiksi untuk menghadirkan suasana tertentu yang diharapkan oleh penyampai pesan sehingga maksud dan tujuannya menjadi menarik serta memikat untuk terus diikuti.

macam jenis contoh majas

Secara umum, terdapat empat macam Majas, yaitu Majas perbandingan, pertentangan, sindiran dan majas penegasan. Namun begitu, ternyata dari jenis jenis  majas tersebut, masing-masing memiliki turunannya yang akan kita kupas lebih lengkap dibawah berikut.

Majas Perbandingan

Pengertian majas perbandingan adalah kata-kata kiasan pembanding yang dipergunakan sebagai unsur untuk memberikan kesan kepada pendengar ataupun pembaca. Dari cara penggunaan perbandingan yang diterapkan, maka majas ini dibagi menjadi beberapa bagian :
  • Alegori : Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
    Contoh: Kehidupan seperti roda yang berputar, kadang diatas, kadang dibawah.

  • Metafora : Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
    Contoh: Raja hutan itu mengaum begitu kerasnya. | KPK bertugas memberantas tikus tikus berdasi.

  • Antropomorfisme : Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Subyek antropomorfisme seperti binatang yang digambarkan sebagai makhluk dengan motivasi manusia, dapat berpikir dan berbicara, atau benda alam seperti angin atau matahari. Antropomorfisme bisa kita temukan di dalam cerita dongeng fabel Si Kancil.

  • Sinestesia : Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.

  • Antonomasia : ungkapan yang berhubungan dengan suatu sifat untuk dikenakan pada sifat lain.
    Contoh: Gadis itu memilik paras yang begitu manis. | Namanya begitu harum karena dia suka menolong orang.

  • Aptronim : Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
    Contoh : Si Gendut itu sudah membuat ulah lagi. | Si pintar membuat heboh didalam kelas.

  • Alusio : Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
    Contoh: Jika ada masalah dia tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya.

  • Simile : Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, ibarat, bagai, dan sebagainya.
    Contoh: Anto dan Andi ibarat kucing dan anjing. | Sinta begitu mencintai Rama bagaikan prangko yang lengket pada amplopnya.

  • Metonimia : Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
    Contoh: Kemarin paman datang kemari menggunakan Kijang keluaran terbaru.

  • Hipokorisme : Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.

  • Litotes : Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
    Contoh: Jangan lupa berkunjunglah ke gubukku bila kau sempat. | Terimalah pemberian ku yang tak seberapa ini.

  • Hiperbola : Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
    Contoh: Gedung pencakar langit mulai memadati sisi kota. |  Tangisannya menggetarkan hati siapapun yang mendengar.

  • Fabel : Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
    Contoh: Dia bertingkah seperti ular yang licik. | Matanya menatap bagai harimau yang siap menerkam.

  • Parabel : Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.

  • Perifrasa : Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.

  • Personifikasi : Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
    Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku.

  • Depersonifikasi : Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.

  • Simbolik : Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.

  • Asosiasi : perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
    Contoh: Friksi KPK dan Polri menjadi benang kusut yang harus segera diselesaikan.
  • Pars pro toto : Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
    Contoh:Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.

  • Totum pro parte : Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
    Contoh: Indonesia mencukur Malaysia dengan skor 3-0.

  • Eufimisme : Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
    Contoh: Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?

  • Disfemisme : Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.

  • Eponim : Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
    Contoh: Mereka bermain ke rumah Jono.

Majas Penegasan

Majas ini memiliki pengertian kata-kata kiasan yang menyatakan penegasan untuk meningkatkan kesan yang ingin disampaikan. Majas penegasan terbagi menjadi :
  • Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
  • Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
  • Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
  • Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
  • Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
  • Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
  • Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
  • Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
  • Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
  • Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
  • Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
  • Eksklamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
  • Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
  • Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
  • Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
  • Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
  • Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
  • Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
  • Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
  • Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
  • Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
  • Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
  • Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.

Majas Pertentangan

Majas pertentangan memiliki pengertian kata-kata yang berisikan pertentangan dari yang sebenarnya untuk memperhebat atau menambah kesan yang ingin disampaikan. Terbagi menjadi :

  • Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
    Contoh : Jiwaku menjerit ditengah gelimangan harta.

  • Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
    Contoh : Tuhan tidak melihat dari kaya atau miskin, tetapi dari ketakwaan. | Tua muda, miskin kaya boleh masuk ke taman ini.

  • Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
    Contoh : Semua sudah bersiap, kecuali Andri. | Kamar itu begitu sunyi, hanya detak jam yang terdengar.

  • Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa yang menempatkan dua antonim dalam suatu hubungan sintaksis.
    Contoh : Keadilan yang menghancurkan. | Perang adalah pembunuhan yang menghidupkan.

Majas sindiran

Majas ini memiliki pengertian sebagai kata-kata kiasan yang bersifat sindiran untuk menyampaikan kesan kepada pendengar ataupun pembaca. Jenis majas ini adalah :
  • Ironi : Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
    Contoh: Suaramu begitu merdu seperti ember pecah.

  • Satire : Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dan sebagainya.

  • Sarkasme : Sindiran langsung dan kasar.
    Contoh: Muak aku mendengar namamu. | Dasar kerbau dungu, sudah pemalas pelupa pula.

  • Sinisme : Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
    Contoh: Aku heran kenapa kau bertanya padaku, sementara kamu sudah pintar?

Itulah berbagai macam majas yang disertai dengan pengertian, jenis-jenisnya dan contohnya yang semoga bermanfaat dan memberikan anda semua wawasan yang diharapkan.

Advertisements