Poztmo™ Media

Hal Yang Dianggap Bisa Membatalkan Puasa

Ibadah puasa, baik itu sunah maupun wajib seperti misalnya puasa di bulan Ramadhan adalah kegiatan ibadah yang tergolong cukup berat dan membutuhkan kesiapan mental yang tinggi untuk menjalankannya. Namun begitu sedikitnya pemahaman dari kaum muslimin yang menjalankan ibadah yang satu ini membuatnya menjadi terasa berat karena ketidak tahuannya atau kesalahpahamannya akan hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Padahal, sejatinya banyak fatwa ulama kontenporer yang menjawab berbagai pertanyaan di era modern ini seputar yang membatalkan puasa atau tidak. Sudah kita mahfum di masyarakat banyak berkembang pantangan atau larangan yang bisa membatalkan ibadah puasa, padahal belum ada dalil dan keterangan yang menjelaskannya.

Kita ambil contoh misalnya, banyak orang yang ragu misalnya apakah muntah yang tidak disengaja itu merusak puasa ataukah puasanya tetap sah. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Poztmo mencoba merangkum dan mengumpulkan fatwa-fatwa terutama dari Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah. Semoga bermanfaat.

yang membatalkan puasa

Fatwa-Fatwa seputar yang membatalkan puasa Syaikh Ibnu Bazz

Keterangan :
Q = Question / Pertanyaan
A = Answer / Jawaban



Q : Apa hukum menelan ludah bagi yang berpuasa?

A : Tidak apa-apa menelan ludah dan saya tidak mengetahui adanya khilaf di kalangan ulama dalam hal itu karena sesuatu yang sulit dan tidak dapat dihindarinya. Adapun menelan dahak maka wajib membuangnya kalau sudah sampai ke mulut, maka bagi orang puasa tidak boleh menelannya kembali karena memungkinkan untuk menghindarinya dan bukan seperti ludah.

Q : Apakah muntah membatalkan puasa?

A : Banyak perkara yang dialami orang puasa tanpa dia sengaja seperti terluka, mimisan (hidung berdarah), atau muntah, atau masuknya air atau zat tertentu ke tenggorokannya tanpa dia inginkan dengan sengaja. Seluruhnya perkara ini tak membatalkan puasa berdasarkan sabda Nabi Muhammad :

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

"Barangsiapa yang terdesak muntah, maka tidak ada qadla baginya; dan barangsiapa sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadla'." (HR. Ahmad dan ahli sunan dengan sanad yang shahih)

Q : Apabila orang bermimpi basah pada siang Ramadhan, batalkah puasanya? Apakah dia wajib bersegera mandi?

A : Mimpi basah tak membatalkan puasa dikarenakan bukan pilihan (kemauan) orang yg berpuasa itu & beliau wajib mandi janabah. Jika ia bermimpi basah sesudah shalat Subuh dulu mengakhirkan mandinya hingga disaat shalat Dzuhur, sehingga tidak apa-apa & tak merusak puasanya.
Demikian serta kalau beliau lakukan interaksi suami-istri & tak mandi melainkan setelah terbit fajar, sehingga beliau tak berdosa dalam hal tersebut.
Terdapat keterangan jelas dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau pernah masih dalam keadaan junub pada pagi hari karena bersetubuh dengan istrinya, lalu beliau mandi dan berpuasa. Begitu juga wanita haid dan nifas, jika mereka sudah suci pada malam hari dan belum mandi kecuali sesudah terbitnya fajar, maka keduanya tidak berdosa dan puasanya sah. Namun, tak boleh bagi mereka berdua ataupun orang junub utk mengakhirkan mandi atau shalat hingga terbitnya matahari. Bahkan mereka seluruhnya wajib bersegera mandi sebelum terbit matahari maka sanggup menunaikan shalat Suubuh kepada waktunya. Bagi cowok sebaiknya utk bersegera mandi janabah sebelum shalat subuh maka memungkinkannya buat lakukan shalat berjama'ah.

Q : Apakah menggunjing orang membatalkan puasa Ramadhan?

A : Ghibah tidak membatalkan puasa, yaitu menyebut saudaranya dengan sesuatu yang tidak disukainya dan itu bentuk maksiat berdasarkan firman Allah 'Azza wa Jalla,

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

"Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12) Begitu juga naminah (adu domba), mencela, mencaci, dan berdusta. Semua itu tidak membatalkan puasa. Tetapi semuanya yaitu maksiat yg wajib dijauhi & ditinggalkan bagi orang berpuasa & selainnya. Maksiat-maksiat itu menciderai nilai puasa & mengurangi pahalanya berdasarkan sabda Nabi : "Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya serta perbuatan bodoh maka Allah tidak butuh pada puasanya yang hanya sebatas meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya) Dan sabdanya yang lain, "Puasa adalah tameng. Maka apabila salah seorang kalian berpuasa janganlah ia berkata keji dan berteriak-teriak. Dan apabila ada seseorang mengajaknya bertengkar atau berkelahi hendaknya dia mengatakan, sesungguhnya aku sedang berpuasa." (Muttafaq 'alaih) dan hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak.

Q : Kepala saya pernah tertimpa batu, darah mengalir dengan deras, apakah saya boleh tidak berpuasa karena darah itu? Dan berkaitan dengan muntah, apakah itu merusak puasa atau tidak?

A : Batu yang mengenai kepada Anda sehingga darah banyak keluar, tidak membatalkan puasa. Muntah yang keluar tanpa disengaja, tidak membatalkan puasa berdasarkan sabda Rasulullah :

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

"Barangsiapa yang terdesak muntah, maka tidak ada qadla' baginya; dan barangsiapa sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadla'." (HR. Ahmad dan Ahli Sunan dengan sanad yang shahih)

Q : Apakah keluarnya madzi (air yang keluar dari kemaluan bersifat bening dan lengket) dengan berbagai sebabnya membatalkan puasa ataukah tidak?

A : Orang yang berpuasa tidak boleh berbuka (membatalkan puasanya) karena keluarnya madzi dari dirinya menurut satu dari dua pendapat yang lebih shalih.

Q : Apa hukum orang yang berpuasa dipakaikan infus karena suatu hajat?

A : Hukumnya tak apa-apa jika orang yg sakit memang membutuhkannya menurut pernyataan yg paling shahih di kalangan ulama. Ini pun opini yg dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah & mayoritas ahli ilmu lantaran itu tak mirip dibadingkan dengan makan & minum.

Q : Apa hukum menggunakan injeksi (suntikan) di pembuluh darah dan di otot, apa perbedaan di antara keduanya?

A : Keduanya tak membatalkan puasa. Yg membatalkan cuma injeksi utk asupan makanan semata. Demikian pun membawa darah buat dianalisis (sampel darah) tak membatalkan puasa kerana itu tidak sama dgn bekam. Adapun berbekam sehingga membatalkan puasa orang yg membekam & yg dibekam menurut pendapat ulama yg paling shahih berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Batal puasa orang yang membekam dan yang dibekam." (HR. al-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa': no. 931)

Q : Apabila seseorang mengalami sakit gigi dan pergi ke dokter, lalu dokter membersihkan giginya, menambal, atau mencabutnya, apakah hal itu membatalkan puasanya? Dan seandainya dokter menyuntikkan penghilang rasa sakit, apakah hal itu juga mempengaruhi puasanya?

A : Hal-hal tersebut tidak mempengaruhi sahnya puasa. Bahkan semua itu dimaafkan. Namun dia wajib menjaga agar obat atau darah tidak tertelan. Begitu juga suntik bius yang disebutkan, tidak membatalkan puasa karena hal itu tidak terkategori makan dan minum hingga pada dasarnya puasanya sah dan tidak batal.

Q : Apakah orang yang berpuasa boleh menggunakan pasta gigi  di siang Ramadhan?

A : Tak apa hal tersebut dgn tetap menjaga supaya tak ada yg tertelan. Sama Seperti disyariatkannya bersiwak bagi orang yang berpuasa di awal siang atau akhirnya. Sebahagian ulama ada berpendapat makruh memakai siwak setelah matahari tergelincir, dan itu pendapat yg lemah. Yg benar, tidak dimakruhkan berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Bersiwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridlaan Allah." (HR. Al-Nasai dengan sanad shahih dari Aisyah radliyallahu 'anha) dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Kalau saja tidak akan memberatkan umatkaku, pasti aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap shalat." (Muttafaq 'alaih) dan ini mencakup shalat Dzuhur dan Ashar; keduanya sesudah matahari tergelincir. Wallahu Waliiyu al-Taufiq.

Q : Apakah memakai obat tetes mata pada siang Ramadhan membatalkan puasa?

A : Pendapat yang benar, memakai obat tetes mata tidak membatalkan puasa walaupun memang terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian mereka berkata, "Apabila rasanya sampai ke tenggorokan maka membatalkan puasa". Dan pendapat yang shahih adalah tidak membatalkan puasa secara mutlak. Karena mata bukan jalan makanan. Tetapi kalau meninggalkannya untuk kehati-hatian dan keluar dari perselisihan dari adanya rasa di tenggorokan maka tidak apa-apa. Hanya saja dia tidak membatalkan puasa, baik diteteskannya di mata atau telinga.

Q : Apa hukum menggunakan obat yang disemprot kedalam mulut (obat asma) saat berpuasa Ramadhan?

A : Bismillah walhamdulillah, hukumnya mubah (boleh) apabila dalam kondisi terpaksa membutuhkan hal itu berdasarkan firman Allah 'Azza wa Jalla :

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْه

"Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya." (QS. Al-An'am: 119).
Hal itu tidak menyerupa makan dan minum, hampir mirip dengan mengambil darah untuk sample pemeriksaan, dan injeksi bukan sebagaialat makan.

Q : Di Apotek terdapat parfum khusus untuk mulut, caranya dengan disemprotkan. Apakah boleh menggunakannya selama siang Ramadlan untuk menghilangkan bau mulut?

A : Kami memandangnya tidak apa-apa menggunakan sesuatu yang bisa menghilangkan bau tidak enak dari mulut bagi orang yang berpuasa dan selainnya selama benda itu suci dan mubah.

Q : Menggunakan celak dan beberapa alat kecantikan selama siang Ramadhan itu membatalkan puasa ataukah tidak?

A : Celak tidak membatalkan puasanya orang-orang laki-laki dan perempuan menurut pendapat paling kuat. Namun menggunakannya pada malam hari lebih utama bagi yg berpuasa. Demikian pun media pembersih muka seperti sabun, krim dan yg menempel di kulit luar,termasuk diantaranya henna dan make-up serta alat serupa. Namun, tidak boleh menggunakan make-up kalau hal itu membahayakan wajah. Wallahu waliyyu al-Taufiq.

Q : Seorang laki-laki yang puasa mandi besar dan tanpa sengaja air masuk ke tenggorokannya, maka apakah dia wajib qadla'?

A : Dia tidak wajib qadla karena tidak sengaja melakukan itu, dia seperti orang yang terpaksa dan lupa.

Q : Bagaimana hukumnya, apabila ada darah yang keluar dari orang yang berpuasa seperti mimisan (keluar darah dari hidung) dan semisalnya? Apakah orang yang berpuasa boleh donor darah atau mengambilnya untuk sampel pemeriksaan?

A : Keluarnya darah dari orang yg berpuasa seperti mimisan, istihadzah, & semisalnya tak membatalkan puasa. Sesungguhnya yg merusak puasa yaitu haid, nifas, & berbekam. Orang yang berpuasa boleh memeriksakan darah diwaktu dibutuhkan, & puasanya tak batal lantaran itu. Adapun donor darah, untuk kehati-hatian sebaiknya dilakukan sesudah berbuka, sebab umumnya yang ke luar tidak sedikit yang membuatnya bisa menyerupai berbekam.

Demikianlah beberapa fatwa seputar hal-hal yang membatalkan puasa yang mungkin saja memberi anda wawasan tambahan yang semoga meningkatkan kualitas shaum anda semuanya. Selamat berpuasa.